JAKARTA – Sebuah gerakan besar kerap lahir dari kerja senyap yang konsisten. Hal itulah yang direkam dalam buku Pemberdayaan Ekonomi Pemuda: Menggapai Potensi Tanpa Batas – Membangun Nusantara dari Akar Rumput, yang mengisahkan perjalanan pemberdayaan pemuda dari Papua hingga berbagai daerah di Indonesia.
Buku tersebut dibedah dalam acara diskusi yang digelar Keluarga Mahasiswa Majalengka (Kemka) Jakarta, Minggu (22/12/2025).
Kegiatan ini menghadirkan Ketua Umum Papua Youth Creative Hub (PYCH), Simon Tabuni, sebagai narasumber secara daring melalui Zoom.Simon, yang saat ini tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di Swedia, menjelaskan bahwa keberhasilan PYCH tidak lahir secara instan.
Gerakan itu berangkat dari kegelisahan pemuda Papua terhadap minimnya ruang aktualisasi, tingginya angka pengangguran, serta ketimpangan pembangunan manusia.
“Anak muda Papua memiliki potensi besar, tetapi lama tidak mendapat ruang. PYCH lahir dari kegelisahan itu, tumbuh dari akar rumput, dan berkembang bersama masyarakat,” ujar Simon, Rabu (24/12/2025).
Gerakan pemberdayaan tersebut bermula dari Papua Muda Inspiratif (PMI) yang didirikan oleh 23 pemuda dari tujuh wilayah adat Papua.
Seiring waktu, PMI berkembang menjadi Papua Youth Creative Hub (PYCH) yang kini melibatkan lebih dari 15.000 pemuda Papua. Model serupa kemudian direplikasi di Aceh melalui Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) yang menjangkau lebih dari 21.000 pemuda, serta Maluku Youth Creative Hub dan NTT Youth Creative Hub.
Dalam buku ini ditegaskan bahwa PYCH dan AMANAH bukan sekadar program seremonial, melainkan ekosistem hidup berbasis pendampingan berkelanjutan dan kepercayaan terhadap pemuda sebagai subjek pembangunan.
Pendekatan tersebut dinilai mampu menghasilkan dampak jangka panjang dibanding pembangunan yang semata berfokus pada infrastruktur.
Berbagai kisah sukses dari lapangan turut dihadirkan, mulai dari pemuda yang bertransformasi menjadi wirausahawan, petani modern, pelaku ekonomi kreatif, hingga inovator berbasis teknologi.
Nama-nama seperti Simon Tabuni, Meiliana Osok, Vitha Faidiban, dan Eunike Yunita Raubaba menjadi contoh lahirnya local champions dari daerah. Buku ini juga dilengkapi testimoni sejumlah tokoh nasional lintas sektor.
Wakil Presiden RI ke-13 Ma’ruf Amin menilai PYCH dan AMANAH sebagai bukti bahwa pembangunan sejati berangkat dari manusia yang berdaya.
Sementara itu, mantan Menpora RI Ario Bimo Nandito Ariotedjo dan Guru Besar UI Prof. Rhenald Kasali menyoroti relevansi serta dampak ekonomi nyata yang dihasilkan dari lahirnya UMKM dan wirausaha muda.
Dalam seminar tersebut, Simon menegaskan bahwa model PYCH dan AMANAH layak direplikasi secara nasional sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Ia juga menyinggung peran Made Kartikajaya, yang kala itu menjabat Deputi IV Bidang Intelijen Ekonomi BIN, sebagai pembina yang berperan penting dalam pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas.
“Beliau membangun dengan hati. Tidak selalu membutuhkan dana besar, tetapi komitmen, ketulusan, dan keberpihakan kepada masyarakat,” kata Simon.
Menurut Simon, Made Kartikajaya tidak hanya memberi arahan, tetapi hadir langsung di lapangan dan bekerja bersama pemuda Papua. Pendekatan tersebut membuat anak muda merasa dipercaya, dihargai, dan diposisikan sebagai mitra pembangunan.
Sementara itu, penulis buku, Adim, mengakui bahwa karya tersebut belum sepenuhnya sempurna. Ia menyebut keterbatasan wawancara langsung dengan sejumlah tokoh kunci seperti Prabowo Subianto, Joko Widodo, Budi Gunawan, hingga Made Kartikajaya sebagai salah satu kekurangan buku.
Meski demikian, Menggapai Potensi Tanpa Batas dinilai menjadi catatan penting tentang bagaimana perubahan besar dapat lahir dari kerja nyata di lapangan, serta bagaimana pemuda, ketika diberi ruang dan kepercayaan, mampu menyalakan harapan dari pinggiran Nusantara.
