Pemerintah Indonesia bersama dengan Pemerintah Rusia mengakselerasi penyelesaian sejumlah kesepakatan kerjasama (MoU) menjelang pameran industri global INNOPROM 2026 yang akan diselenggarakan pada Juli tahun depan di Rusia.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam pernyataan diterima di Yogyakarta, Selasa menyampaikan pada 8 Desember dirinya melakukan kunjungan kerja ke Moscow, Rusia dengan fokus kunjungan kerja tersebut untuk mempercepat penandatanganan beberapa kesepakatan.
Menperin menghadiri pertemuan bilateral dengan Menteri Industri dan Perdagangan Federasi Rusia Anton Alikhanov dengan capaian utama dari pertemuan ini yakni disepakatinya MoU on Cooperation in the Field of Scientific Research on the Safe Use of Chrysotile Asbestos, serta MoU on Cooperation in the Field of Shipbuilding.
“Melalui penandatanganan serta finalisasi MoU ini menjadi landasan penting untuk memperluas kolaborasi teknologi, riset, dan penguatan daya saing industri nasional,” ujar Menperin.
Adapun dalam MoU on Cooperation in the Field of Shipbuilding mengatur kerja sama di sektor industri galangan kapal. Melalui perjanjian ini, Menperin berharap kolaborasi tersebut dapat memberikan manfaat dan kontribusi signifikan bagi pengembangan industri galangan kapal di Indonesia maupun Rusia.
Sementara pada MoU on Cooperation in the Field of Scientific Research on the Safe Use of Chrysotile Asbestos merupakan kolaborasi dalam penelitian ilmiah mengenai penggunaan krisotil yang aman. Sebagai bagian dari kerja sama ini, dua tenaga laboratorium asal Indonesia telah mengikuti pelatihan yang didukung oleh Pemerintah Rusia pada September 2024.
Menperin menegaskan kerja sama ini akan memberikan manfaat signifikan bagi pengembangan sektor industri manufaktur dan SDM industri, serta membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara Indonesia dengan Rusia.
Lebih lanjut, pertemuan bilateral ini sekaligus meninjau tindak lanjut dari hasil Sidang Komisi Bersama Indonesia-Rusia terutama dalam Working Group on Trade, Investment and Industry.
Menperin berharap upaya konkret dapat segera diwujudkan pada sejumlah isu, termasuk industri, rantai pasok halal, perdagangan, logistik, standardisasi dan sertifikasi, pertanian, serta finansial.
Menperin juga menyatakan dukungannya terhadap perkembangan BRICS Centre for Industrial Competences (BCIC).
“Indonesia mendukung penuh kolaborasi yang dijalin dengan Rusia di berbagai forum internasional, salah satunya BCIC yang memiliki potensi untuk memacu digitalisasi industri, teknologi mobilitas baru, sistem transportasi tanpa awak, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan IKM, transformasi digital, kecerdasan buatan, dan bio-industri,” kata Menperin.
Kemenperin meyakini bahwa harmonisasi program melalui kerja sama ini akan mendukung kesiapan Indonesia menampilkan potensi industri terbaiknya pada INNOPROM 2026, serta memperluas peluang kerja sama industri lintas sektor.
Kolaborasi ini juga diproyeksikan memperkuat akses pasar, meningkatkan rantai pasok, dan mempercepat transformasi industri menuju arah yang lebih modern, kompetitif, dan berkelanjutan.
“Dengan semangat kolaborasi yang terus meningkat, kami optimistis bahwa hubungan industri dengan Rusia akan semakin kuat dan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan bagi kedua negara,” kata Menperin.
Sebelumnya, hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Rusia yang telah dijalin selama 75 tahun menunjukkan penguatan signifikan melalui pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Vladimir Putin. Pertemuan bilateral tersebut dilakukan pada bulan Juni 2025 dan membuka ruang baru bagi kerja sama industri, perdagangan dan investasi.
“Tahun ini kami merayakan 75 tahun hubungan bilateral yang memiliki nilai historik panjang dan kami berharap kedepannya kolaborasi antara Indonesia dengan Rusia akan semakin menguat. Kami juga menyambut baik rencana kunjungan Presiden Vladimir Putin ke Jakarta guna memperkokoh kolaborasi kedua negara,” kata Menperin.
sumber antaranews
