Nasional

Kemendagri Fokuskan Percepatan Data dan Lahan Perumahan Permanen di Sumatra

Kemendagri Fokuskan Percepatan Data dan Lahan Perumahan Permanen di Sumatra

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian pada Jumat, 27 Desember, mendesak pemerintah daerah di Sumatra untuk segera menyerahkan data akurat penduduk yang terdampak banjir dan tanah longsor. Desakan ini bertujuan memastikan kesiapan lahan agar pembangunan perumahan permanen dapat dimulai tanpa penundaan. Langkah cepat ini krusial demi percepatan pemulihan pascabencana di wilayah tersebut.

Pembangunan rumah permanen ini ditujukan bagi keluarga yang rumahnya hancur atau rusak parah akibat banjir dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi pada akhir November 2025. Provinsi-provinsi tersebut adalah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pemerintah pusat bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyediakan hunian layak bagi para korban.

Tito Karnavian, yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, menekankan bahwa percepatan pembangunan sangat bergantung pada kesiapan administrasi lokal dalam melengkapi data penerima manfaat yang terverifikasi. Selain itu, ketersediaan lahan yang sesuai juga menjadi faktor penentu utama. Kesiapan ini akan mempercepat dimulainya konstruksi di seluruh wilayah terdampak.

Kriteria Lahan ‘Clear and Clean’ untuk Perumahan Permanen Sumatra

Tito Karnavian menegaskan bahwa semakin cepat lahan dapat disiapkan secara “clear and clean”, semakin cepat pula pembangunan dapat dilanjutkan. Lahan “clear and clean” mengacu pada bidang tanah dengan status hukum yang aman, bebas sengketa, dan layak secara teknis untuk konstruksi. Ini adalah prasyarat mutlak untuk proyek perumahan permanen Sumatra.

Selain kepastian hukum, lokasi yang diusulkan harus memenuhi standar lingkungan dan dekat dengan pusat sosial serta ekonomi. Fasilitas seperti pasar, sekolah, tempat ibadah, dan akses logistik sangat penting untuk menopang mata pencarian jangka panjang warga. Hal ini memastikan keberlanjutan hidup masyarakat pascabencana.

Menteri Dalam Negeri mengingatkan bahwa penundaan di tingkat lokal dapat memperlambat keseluruhan upaya pemulihan. Oleh karena itu, para pemimpin daerah diminta untuk menjadikan persiapan lahan sebagai prioritas utama. Kesiapan ini akan menjadi kunci suksesnya program perumahan permanen Sumatra.

Kolaborasi Pemerintah dan Yayasan Tzu Chi dalam Pembangunan Hunian

Pemerintah pusat berkolaborasi dengan berbagai mitra, termasuk Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, untuk membangun 2.600 rumah permanen. Rumah-rumah ini diperuntukkan bagi korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen berbagai pihak dalam penanganan pascabencana.

Pembangunan perumahan permanen di beberapa wilayah Sumatera Utara telah dimulai dengan peletakan batu pertama. Sementara itu, di Aceh dan Sumatera Barat, konstruksi serupa diharapkan segera menyusul setelah persiapan lahan selesai. Pemerintah daerah juga harus menuntaskan data warga terdampak.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menginstruksikan agar rekonstruksi pascabencana memprioritaskan penggunaan lahan milik pemerintah. Lahan tersebut bisa berasal dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, atau badan usaha milik negara. Ini untuk menghindari masalah sengketa lahan di kemudian hari.

Komitmen Pemerintah untuk Seluruh Korban Bencana

Selain program kolaboratif, pemerintah juga telah menyiapkan rencana terpisah yang didanai oleh anggaran negara untuk membangun lebih banyak unit perumahan. Ini menunjukkan skala komitmen pemerintah dalam mengatasi krisis perumahan pascabencana. Bantuan ini akan melengkapi upaya yang sudah ada.

Tito Karnavian menekankan bahwa bantuan tidak hanya terbatas pada keluarga yang kehilangan rumah sepenuhnya. Skema dukungan juga telah disiapkan bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan sedang dan ringan. Ini memastikan cakupan bantuan yang lebih luas dan adil.

Pemerintah berkomitmen untuk memastikan semua warga terdampak bencana menerima dukungan yang sesuai. Upaya pemulihan dan rekonstruksi terus berlanjut di seluruh Sumatra. Ini adalah bagian dari janji pemerintah untuk tidak meninggalkan warganya yang sedang kesulitan.

Sumber: AntaraNews