Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap kelompok teror memanfaatkan fitur komunikasi dalam game online, seperti voice chat, untuk mendekati anak-anak. Kepala BNPT, Eddy Hartono, menyebut tahapan ini sebagai digital grooming, yaitu membangun kepercayaan dan ikatan psikologis sebelum mengajak korban ke grup tertutup seperti Telegram atau WhatsApp.
Di grup tersebut, terjadi normalisasi perilaku dan doktrinasi, termasuk narasi anti-demokrasi dan anti-pemerintah. Eddy menegaskan, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 memberi aparat ruang untuk bertindak preventif melalui pendekatan preemptive justice.
BNPT juga fokus pada pencegahan dini melalui mikro-ekologi anak, mencakup keluarga, sekolah, pergaulan, dan interaksi digital. Faktor psikologis seperti konflik keluarga dan bullying menjadi pemicu kerentanan anak terhadap radikalisme.
Untuk itu, BNPT mendorong forum komunikasi di sekolah yang melibatkan guru, siswa, dan orang tua. Selain itu, lembaga ini sedang menyusun Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE) yang lebih komprehensif.
“Pencegahan terorisme adalah kewajiban negara. Ini bukan pilihan, tapi keharusan,” tegas Eddy, yang berharap peserta dialog menjadi duta pencegahan radikalisme di lingkungan masing-masing.
Dialog Kebangsaan ini diikuti kepala sekolah, guru, dan perwakilan satuan pendidikan dari 17 provinsi, baik luring sekitar 300 peserta maupun daring sekitar 1.000 peserta.
Sumber AntaraNews.com
