PLN Indonesia Power (PLN IP) telah menerapkan digitalisasi untuk memastikan keandalan pasokan biomassa di PLTU Adipala, Cilacap. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen mereka untuk mendukung transisi menuju energi bersih dengan memanfaatkan bahan bakar alternatif.
Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, menegaskan bahwa digitalisasi biomassa adalah langkah penting dalam pengelolaan energi primer yang berkelanjutan. “Kami melihat biomassa sebagai peluang strategis, bukan hanya untuk diversifikasi energi, tetapi juga untuk membuka ruang partisipasi masyarakat dalam ekosistem energi nasional,” kata Rizal dikutip di Jakarta, Selasa (18/11).
Digitalisasi ini diterapkan pada rantai pasok biomassa yang berbasis marketplace, yang dikembangkan oleh PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). Saat ini, sistem tersebut telah mulai dioperasikan di PLTU Adipala, Cilacap, yang dikelola oleh Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Jawa Tengah 2 Adipala. Marketplace biomassa berfungsi sebagai platform digital yang menghubungkan penyedia biomassa lokal, seperti petani, koperasi, dan pelaku UMKM, dengan unit pembangkit listrik yang menggunakan metode cofiring.
Aplikasi ini memungkinkan transaksi, distribusi, dan pelaporan biomassa dilakukan dengan cara yang transparan, real-time, dan terintegrasi dengan sistem operasional pembangkit. “Digitalisasi melalui marketplace ini memungkinkan proses yang lebih transparan, efisien, dan berdampak langsung bagi ekonomi lokal,” ujar Rizal.
Penggunaan Cofiring Biomassa
Direktur Operasi Pembangkit Batubara PLN Indonesia Power, Hanafi Nur Rifa’i menyatakan bahwa PLN Indonesia Power memiliki peran penting sebagai operator pembangkit dalam memastikan kesiapan infrastruktur, sistem pembakaran, dan pelatihan sumber daya manusia agar dapat menyerap biomassa dengan maksimal. Salah satu unit yang menjadi pelopor dalam penerapan cofiring biomassa adalah PLTU Adipala, yang kini berfungsi sebagai lokasi percontohan untuk integrasi marketplace dalam operasional pembangkit.
“Digitalisasi ini bukan hanya soal efisiensi operasional, tapi juga tentang menciptakan ekosistem energi yang lebih inklusif. Kami ingin memastikan bahwa transisi energi juga membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar pembangkit.”
Inovasi teknologi melalui digitalisasi biomassa dengan marketplace merupakan langkah strategis PLN Group untuk membangun masa depan energi yang lebih ramah lingkungan, adil, dan inklusif. PLN Indonesia Power, bersama dengan PLN EPI dan seluruh entitas PLN Group, terus berupaya memperkuat kolaborasi agar transisi energi tidak hanya terjadi di pusat, tetapi juga memberikan dampak positif kepada masyarakat.
Limbah Diubah Jadi Sumber Energi
Sebelumnya, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) telah melakukan inovasi untuk menjaga pasokan energi primer di tanah air, salah satunya melalui pengelolaan limbah yang dijadikan sumber energi baru dan terbarukan (EBT). Direktur Utama PLN Energi Primer Indonesia, Rakhmad Dewanto, menyatakan bahwa pengembangan biomassa melalui pemanfaatan limbah adalah komponen krusial dalam strategi dekarbonisasi PLN Group.
Langkah ini juga berkontribusi terhadap pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) 2030 dan Net Zero Emission 2050. “Pengembangan biomassa di PLN Group yang dilaksanakan oleh PLN Energi Primer Indonesia adalah salah satu upaya nyata mengurangi emisi karbon nasional,” kata Rakhmad, Selasa (28/10).
Dalam upaya mengubah limbah menjadi sumber EBT, PLN EPI bekerja sama dengan PT Farmindo Multi Dimensi. Kerja sama ini merupakan langkah strategis PLN EPI untuk memperkuat ekosistem bioenergi dan biomassa di Indonesia, serta mendukung pencapaian target pemerintah menuju Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.
Potensi bioenergi di Indonesia sangat besar, baik dari limbah pertanian, limbah industri, maupun tanaman energi. Jika dikelola dengan baik, limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi sumber energi sekaligus membantu mengurangi emisi,” ujar Rakhmad.
Rakhmad juga menjelaskan bahwa saat ini PLN telah menerapkan cofiring biomassa di 52 unit PLTU dengan target pemanfaatan mencapai 10 juta ton biomassa pada tahun 2030. Selain itu, PLN tengah mengembangkan pembangkit biomassa, pembangkit yang berbasis sampah, serta biogas dengan total kapasitas hampir 1 Gigawatt (GW).
“PLN EPI bertanggung jawab untuk memastikan seluruh pasokan energi primer bagi pembangkit PLN Group. Kami menyuplai batu bara sekitar 100 juta ton per tahun dan gas hampir 1.400 juta kaki kubik per hari. Kini, kami mulai mendorong bioenergi sebagai sumber pasokan baru yang berkelanjutan,” tambahnya. Sumber merdeka.com
