Jakarta – Terdiri dari berbagai komunitas dan organisasi, tim budayawan Kabupaten Majalengka berhasil mempersatukan ide dan gagasan. Di Aula Hotel Fitra menjadi ruang perayaan budaya dalam peluncuran Buku Ensiklopedia Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) Kabupaten Majalengka dan Data Set Mendeley
.Acara tersebut dihadiri berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, akademisi, guru, komunitas budaya, hingga mahasiswa. Kehadiran lintas generasi menciptakan suasana hangat dan menunjukkan tingginya perhatian terhadap pelestarian budaya lokal.
Sejak awal kegiatan, para undangan tampak antusias. Interaksi antar peserta berlangsung cair, sementara mahasiswa dan pegiat budaya aktif mengabadikan momen serta berdiskusi mengenai pentingnya dokumentasi warisan budaya.
Di balik peluncuran ini, terdapat tim penyusun yang menjadi motor utama pengembangan ensiklopedia. Tim tersebut diketuai oleh T. Heru Nurgiansah bersama anggota lainnya, yakni Jagad Aditya Dewantara, Edy Agustinus, Giopanus Remo Pratama, Yuver Kusnoto, Nana Rohmana, Cornelius Kiki Hartanto, serta Nuri Annisa.
Tim penyusun tidak hanya bekerja secara konseptual, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk mendokumentasikan situs budaya, menggali informasi dari tokoh masyarakat, serta menyusun data secara sistematis dalam platform Mendeley.
Upaya ini dilakukan guna memastikan data budaya tersimpan rapi dan dapat diakses sebagai referensi di masa mendatang. Sehari setelah peluncuran, workshop digelar di lokasi yang sama pada Jumat (13/2/2026).
Kegiatan ini menghadirkan diskusi interaktif antara akademisi, komunitas, dan pegiat budaya terkait pemanfaatan dokumentasi budaya berbasis data.
Mahasiswa dari Universitas Majalengka, khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis, terlihat aktif berpartisipasi. Mereka menunjukkan minat besar dalam penggunaan data sebagai bahan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam diskusi, para pegiat budaya dan tokoh masyarakat menekankan pentingnya dokumentasi sebagai upaya menjaga keberlanjutan cerita dan identitas lokal agar tidak hilang ditelan zaman.
Workshop ini juga menghasilkan rekomendasi agar kegiatan serupa dilakukan secara berkala untuk memperkuat sinergi antar pihak.
Antusiasme generasi muda menjadi sorotan utama dalam rangkaian kegiatan ini. Mahasiswa, guru, hingga aktivis pramuka terlihat terlibat aktif, tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai calon penerus pelestarian budaya.
Ensiklopedia ODCB ini dinilai memiliki nilai strategis sebagai bahan ajar, referensi penelitian, serta media pembelajaran sejarah lokal.
Kehadirannya diharapkan mampu mendekatkan generasi muda dengan akar budaya mereka sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas daerah.
Peluncuran ensiklopedia ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol komitmen bersama dalam menjaga warisan leluhur. Semangat kolaborasi yang tercipta diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pelestarian budaya Majalengka di masa depan.
