Tijjani Reijnders saat ini tengah menghadapi dua tantangan bersamaan: mendapatkan pujian yang tinggi karena dibandingkan dengan legenda sepak bola, serta tekanan untuk menunjukkan bahwa ia memiliki identitas yang unik. “Perbandingan dengan De Bruyne merupakan sebuah pujian besar, namun peran dan kualitas kami berbeda,” ungkap Reijnders dalam wawancaranya dengan Voetbal International.
Ia menegaskan bahwa sejak awal, klub telah menyampaikan bahwa dirinya bukanlah pengganti De Bruyne. Reijnders mendeskripsikan dirinya sebagai gelandang serba bisa dengan peran utama sebagai nomor delapan. Dalam permainan, ia berfungsi sebagai pemain box-to-box yang aktif dalam membangun serangan, sekaligus membantu pertahanan. “Kekuatan terbesar saya adalah sering berada di posisi untuk mencetak gol. Biasanya, saya mendapatkan setidaknya dua peluang per pertandingan,” jelasnya. Meskipun belum seproduktif saat bermain untuk AC Milan, Reijnders tetap optimis bahwa gol-gol akan segera menyusul.
Konsisten
Reijnders telah berulang kali menyatakan pandangannya yang konsisten mengenai perannya di tim. Ketika ia bergabung dengan City pada pertengahan 2025, ia secara tegas menegaskan bahwa kehadirannya bukan untuk menggantikan De Bruyne, meskipun ia sangat mengagumi sang bintang Belgia dan telah mempelajari gaya permainan serta visinya. Dalam laporan yang dirilis oleh ESPN, Reijnders menegaskan bahwa ia memiliki cara bermain sendiri, meskipun ia tetap mengambil inspirasi dari pemain lain, termasuk teknik De Bruyne dalam memindai lapangan dan memberikan umpan. Selain itu, Reijnders juga menjelaskan bahwa ia berperan sebagai gelandang nomor delapan yang serba bisa, bukan hanya sekadar playmaker kreatif seperti De Bruyne.
Gol pasti akan tercipta
Tijjani berusaha untuk bertransisi antara fase pertahanan dan serangan, serta aktif dalam proses build-up hingga fase akhir permainan. Ia tidak hanya berperan sebagai pengumpan di ujung lapangan, tetapi juga berinisiatif untuk maju dan mencetak gol atau menciptakan peluang bagi tim. Mengenai urusan mencetak gol, ia mengungkapkan bahwa ia sering berada di posisi yang menguntungkan, dengan rata-rata mendapatkan dua peluang bagus dalam setiap pertandingan, meskipun tidak sebanyak saat ia bermain di Milan. Tijjani yakin bahwa dengan terus menempatkan diri di posisi yang tepat, gol akan segera menyusul.
Mengenai perbedaan kualitas, ia mengakui bahwa produktivitasnya belum sebaik saat bermain di Milan, tetapi ia tetap percaya pada proses yang ada. Tijjani kini lebih fokus untuk meningkatkan adaptasinya dan mengambil peran dalam sistem permainan Pep Guardiola, alih-alih memaksakan diri untuk menjadi versi lain dari pemain lain. Ia memahami pentingnya beradaptasi dengan gaya permainan yang diterapkan oleh pelatihnya.
“Ia mengakui belum seproduktif di Milan, tetapi percaya pada proses,” ungkapnya, menegaskan komitmennya untuk terus berkembang. Dengan pendekatan ini, Tijjani berharap bisa memberikan kontribusi yang lebih besar bagi timnya dan meraih kesuksesan di lapangan.
