Ekonomi

Direktur Utama PLN Ungkap Kebutuhan Investasi Jumbo Rp3.000 Triliun hingga 2035

Direktur Utama PLN Ungkap Kebutuhan Investasi Jumbo Rp3.000 Triliun hingga 2035

Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, mengungkap bahwa kebutuhan investasi sektor ketenagalistrikan dalam 10 tahun ke depan mencapai Rp3.000 triliun. Anggaran besar ini diperlukan untuk menjalankan mandat transisi energi sekaligus memastikan listrik tetap terjangkau bagi masyarakat dan industri.

Darmawan menjelaskan, investasi jumbo tersebut merupakan fondasi utama untuk membangun ekosistem kelistrikan yang lebih modern, berkelanjutan, dan kompetitif.

“Kami membutuhkan investasi sekitar Rp3.000 triliun selama 10 tahun. Untuk itu, perlu dibangun ekosistem yang kondusif bagi para investor,” ujar Darmawan dalam PLN CEO Forum di ICE BSD, Rabu (26/11).

Listrik Terjangkau Dukung Pertumbuhan Ekonomi

Darmawan menegaskan bahwa transformasi energi tidak hanya tentang menambah kapasitas pembangkit baru, tetapi juga memastikan sistem kelistrikan nasional mampu mendorong laju investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, penyediaan energi yang affordable menjadi faktor penting untuk menarik investasi baru. Masuknya investasi tersebut otomatis membuka lapangan kerja baru, menurunkan tingkat kemiskinan, dan mempercepat pemerataan ekonomi.

“Dengan energi yang terjangkau, investasi masuk. Itu membuka banyak lapangan kerja sekaligus memperkuat daya saing ekonomi,” tambahnya.

PLN, kata Darmawan, memikul tanggung jawab besar untuk menyediakan listrik yang tidak hanya andal dan cukup, tetapi juga kompetitif dari sisi biaya agar industri nasional terus berkembang.

RUPTL Baru Fokus 76 Persen pada EBT dan Nuklir

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru, PLN menargetkan bahwa 76 persen tambahan pembangkit baru 10 tahun ke depan akan bersumber dari Energi Baru Terbarukan (EBT) dan nuklir. Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyeimbangkan kebutuhan energi, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan.

“Penambahan pembangkit selama 10 tahun, 76 persennya berbasis energi baru terbarukan dan nuklir,” jelasnya.

Kebijakan ini menjadi bagian dari roadmap nasional dalam menurunkan emisi gas rumah kaca dan mempercepat transisi menuju energi bersih.

Danantara Dukung Transformasi Energi Nasional

Darmawan juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk dukungan dari Danantara selaku holding energi nasional. Dukungan pemerintah dan mitra internasional dinilai krusial mengingat kebutuhan pendanaan dan teknologi global yang sangat besar.

“CEO Danantara dan pemerintah siap mendukung penuh pembangunan ekosistem investasi agar seluruh proses transformasi berjalan produktif dan efisien,” tutupnya.

Sumber Merdeka.com